Sabtu ini, rencananya, Fandi ngajakin Winda -cewek nomor satu di hatinya- nonton konser band favorit mereka. Itu artinya, Fandi mesti menjemput sang pacar di rumahnya. Sejak Selasa, Fandi udah panas dingin. Gara-garanya, dia takut banget sama bokap Winda yang konon, seremnya ngalahin vampir pengisap darah. Belum lagi nyokapnya, jutek abis. Aduh gimana nih? Masak mau nge-date aja mesti demam tiga hari? Para cowok yang pernah atau bakal ngadepin masalah kayak Fandi nggak perlu ikut-ikutan demam. Tenang aja! Dewa Cinta punya beberapa contoh kasus plus penyelesaiannya.
Terutama, saat camer menodongmu dengan kata-kata mautnya yang tak kenal ampun:
Maut#1: Jangan berani buka pagar kalau pulang di atas jam sepuluh!
Waduh, kiamat! Mana asyik nonton konser kalau jam sembilan udah kudu cabut? Bisa-bisa, kalian cuma sempat ketemu tukang parkirnya ketimbang sang idola. Yah, sayang banget. Mereka manggung nggak setiap minggu, lho. Tanggung, Man, tanggung! Bisa dapet anaknya, masa nggak bisa naklukin bapaknya? Lancarkan jurus rayuanmu. “Waduh, Om, Cinderella aja boleh pulang jam dua belas malem. Masak cewek cantik kayak anak Om gitu cuma boleh sampai jam sepuluh? Padahal, anak Om jauuuh lebih cantik dari Cinderella, lho. Pasti dulu Tante Ida juga cantik kayak Winda, ya? Pantesan, dapat Om yang ganteng”.
Maut#2: Mau jadi apa kamu kalau bisanya cuma keluyuran malam-malam?
Dhuaarrr! Ini dia, nih, susahnya punya camer kolot. Mau seneng-seneng dikit dibilang nggak punya masa depan. Wah, repot. Mending ditembak sepuluh serdadu Iraq, deh, daripada jawab pertanyaan mematikan kayak gini. Tapi, jalan udah di depan mata. So, hadapi camermu dengan gagah. “Kebetulan, saya punya laboratorium observasi bintang, Om. Sebentar lagi, saat bumi berada tepat di tengah-tengah antara Venus dan Mars, sebuah bintang yang belum pernah muncul akan terlihat di angkasa. Rencananya, sih, sepulang nonton nanti, saya mengajak Winda ke sana. Sekaligus, nunjukin bintang temuan saya yang bernama ’Winda’ itu. Atau, kalau Om mau ikut, saya ganti aja, ya, namanya biar seperti nama Om?”
Maut#3: Daripada nonton konser musik, Winda lebih baik belajar di rumah!
Mampus! Celaka tiga belas, nih! Tiket udah di tangan, pacar nggak berada dalam genggaman! Rugi rugi rugi! Jangan nyerah gara-gara gertakan si camer! Ingat perjuanganmu saat mengumpulkan duit buat membeli dua helai karcis itu; makan kerupuk enam bulan, puasa beli CD tiga bulan, sampai nenteng sepeda pancal demi menghemat duit bensin. Jadi, keluarkan jurus penjinak camer berhati batu. “Nah, justru itu, Om. Winda pergi nonton sama saya dalam rangka belajar. Tugas makalah seni musik Winda lusa harus dikumpulin. Karena not musik nggak bisa dihitung sama rumus kalkulus favorit saya, Winda saya ajak nonton konser itu. Kalau Om jago analisis tangga nada, boleh sekalian ikut wawancara tugas Winda sama personel bandnya. Kebetulan, besok mereka harus pulang ke Swedia!”
Nah, lho! Daripada harus ikut-ikutan ngeliat bintang atau wawancara pakai bahasa Swedia, dijamin, sang camer bakal menyerahkan “Winda”-nya untukmu. Minggu depan kamu udah bisa putar otak sendiri buat cari alasan, kan?
source : http://jawapos.com/